Laman

Kamis, 22 September 2016

Marriage of Convenience





Judul : Marriage of Convenience
Penulis : Shanti
Penerbit : PT Elex Media Komputindo
Jakarta, 2015
306 hlm

-Khrisna-
Aku menatap lembaran kertas di tanganku, berusaha keras memahami isinya. Oh… bukan, aku paham betul apa isinya.Lebih tepatnya, sih, berusaha keras untuk menerima isinya. Kenyataan pahit. Bahwa aku Khrisna Satya Sangkala, tidak akan pernah merasakan indahnya menjadi seorang ayah.
-Dita-
Aku menatap rintik hujan yang semakin menderas. Tidak berniat sedikitpun untuk beranjak dari bangku taman yang kududuki sejak tiga jam yang lalu. Berharap butiran hujan bisa membantuku menghapus rasa sakit itu. Di sini, di dadaku. Dan di sini …. Aku meraba perutku perlahan. Yah, Nak…! Sekarang hanya tinggal kita berdua. Kenyataan pahit. Bahwa aku, Anindita Sahaja, akan menjadi single mother.


Khrisna dan Ijah (nama panggilan kesayangan buat Dita), teman di SMA dulu, sebenarnya sih Ijah adik kelasnya Khrisna, mereka bertemu lagi karena akan adanya pernikahan Arimbi. Arimbi, sahabat Ijah di kantor, dan tanpa dia tahu ternyata adalah adik Khrisna. Khrisna yang telah menghilang ke London, namun balik lagi karena akan ada pernikahan adiknya bertemu dengan tak sengaja di sebuah kolam batu Taman Suropati. Ijah yang  sedang kalut, menenangkan diri di sana, termenung mengirup udara sendirian. Lalu muncullah Khrisna yang kebetulan baru dari bandara, straight from London, kaget melihat Taman Suropati dan singgah karena pengen memotretnya. Kebetulan yang aneh. Dan lalu berbincanglah mereka, hingga akhirnya Khrisna mengantar Ijah pulang.
Singkat cerita, mereka akhirnya kembali akrab. Lalu muncullah perjanjian nikah itu. Ijah di rundung masalah dengan kehamilan karena perkosaan pacarnya, dan Khrisna dengan masalah azoospermia, alias kesulitan memproduksi sperma. Mereka pun deal untuk menikah, dengan alasan pernikahan mutualisme alias saling menguntungkan. 


“Dia butuh ayah buat  anaknya, gue butuh anak. Pas kan. As simple as that. Simbiosis mutualisme,” ujarku. Bima geleng-geleng kepala.
“Simbiosis mutualisme, pala lo botak. Gue tahu. Lo dulu cinta sama Ijah. Bahkan mungkin sampai sekarang.Tapi Ijahnya? Aduh… gue nggak bisa bayangin deh,” keluh Bima. Aku terdiam. (hlm. 105)


Yaah, Khrisna memang mencintai Ijah, dulu juga sekarang.  Dan lalu,menikahlah mereka. Sayangnya masalah tak berhenti di situ. Dalam pernikahan pasti suka dan duka akan terus bergantian. Mampukah Ijah dan Khrisna bertahan?

Menjalani pernikahan, apalagi yang serba tiba-tiba, meski sudah kenal pada awalnya memang tak mudah. Ijah dan Khrisna yang baru bertemu setelah sekian lama tentu belum begitu mengenal pribadi masing-masing. Akan ada banyak rahasia yang harus saling di bagi. Belum lagi trauma Ijah yang mendera, serta masalah Khrisna dengan masalalunya.
Oh ya, untuk karakter Khrisna sendiri sepertinya agak plin plan menurut saya. Bukannya dia bela-belain meninggalkan Jakarta demi mengejar cita-citanya ke London yang mengakibatkan murka ayahnya. Tapi kenapa karena Ijah, dia segera memutuskan stay di Jakarta. Lalu kepergiannya lagi menjelang perpisahan dengan Ijah (spoiler alert). Untunglah di sini ada karakter Bima sang sahabat. Teman berbagi rahasianya. Itulah gunanya teman.. :)

Diceritakan bergantian dari sudut pandang Ijah maupun Khrisna, kisahnya mengalir dengan baik. Ringan meski masalah pelik muncul dalam pernikahan itu. Karakter-karakternya juga menyenangkan, sayang percakapan sehari – hari mereka terasa agak kekanak-kanakan, lain halnya saat diceritakan menurut bahasa hati mereka. Tapi, meski demikian hal ini membuat pembaca jadi rileks mengikuti ceritanya. Tidak terkesan terlalu serius sehingga asyik untuk dibaca tanpa berhenti. Eh, novel ini saya baca lewat aplikasi iJak via handphone, yang tahu sendiri kan besar hurufnya kayak apa. Tapi itu tak menghentikan saya untuk membacanya dan bahkan menyelesaikannya sepanjang malam.  Selain itu, ini adalah seri le marriage yang pertama yang saya baca. Agak ketinggalan juga sih, tapi tak apalah. Lewat novel ini malahan saya jadi tertarik membaca seri le marriage berikutnya. Thanks to iJak.

Dan satu hal yang membuat saya ngakak dalam novel ini tentu saja dengan kehadiran Mak Empot. Bravo deh buat si Mak Empot hahaha….


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar