Laman

Rabu, 21 September 2016

In Between







Judul : In Between
Penulis : Angelique Puspadewi
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Jakarta, 2015
224 hlm


Bagi Adelita, hanya Alvaro yang bisa membuat dunianya berwarna. Membuatnya jatuh cinta hingga tergila-gila. Tetapi karena pria itu atasannya di kantor , Adelita merasa minder. Mana mungkin Alvaro membalas perasaanya? Akhirnya Adelita malah menjodohkan Alvaro dengan sahabat baiknya, Keyla.

Tetapi ketika Alvaro jadian dengan Keyla, Adelita malah terjebak dilema. Antara bahagia menyaksikan kemesraan dua orang yang disayangi dan benci karena tak berdaya menanggung derita patah hati.

Namun, bagaimana jika ternyata Alvaro juga memendam perasaan yang sama terhadap Adelita?


Membaca sinopsis yang terdapat di belakang buku di atas dengan mudah membuat kita menebak seperti apa jalan cerita novel ini plus bagaimana kisahnya akan berakhir. Jenis ending yang mudah ditebak tentunya. 

Adalah seorang gadis, Adelita Suryadipradja, 27 tahun, seorang sekretaris yang bekerja di perusahaan multinasionalyang bergerak di bidang property dan perumahan mewah. Awalnya dia adalah sekretaris seorang Direktur Operasional, namun si Bapak meninggal dalam sebuah perjalanan dinas, maka digantikanlah dengan  Alvaro, seorang Direktur muda lulusan Rusia, 32 tahun, dan lajang, dan tentu saja segera menjadi favorit para pegawai cewek tak terkecuali Adelita yang langsung mengidolakan sang boss. Singkat cerita dia jatuh cinta, mabuk kepayang bahkan membuat dia jadi kurus. Lalu tiba-tiba muncullah Keyla, sahabatnya di masa SMA dulu. Keyla melamar pekerjaan di kantor Adelita, diterima, dank arena kecantikannya menjadi incaran para pria di kantor tak terkecuali salah seorang direktur don juan, Edward. 

Tak ingin sahabatnya Keyla jatuh ke tangan yang salah, Adelita langsung berniat menjodohkan Keyla dengan bosnya Alvaro. Di sini saya jadi heran kok kenapa Adelita begitu cepat berubah pikiran. Nah lho bukannya dia yang jatuh cinta setengah mati sama bossnya, kok dengan mudahnya ide itu terbersit di pikirannya bahkan dijalankannya pula ide itu. Mudah sekali dia menyerah dan tak mempertahankan cintanya, padahal disebutkan bahwa biasanya dia yang duluan menyambar bila ada pria cakep.

Satu lagi keanehan Adelita. Menurut cerita, dia yang merubah penampilan Keyla di SMA dari anak yang culun menjadi keren, tapi malahan kenapa dia kemudian minder dengan kecantikan Keyla.  Argghh… Adelita memang pribadi yang aneh.  Adelita yang terlalu baik hingga rela mengorbankan perasaannya demi sang sahabat dan sang boss yang dipujanya.

Terkadang manusia ingin menjadi malaikat. Seperti lagu yang diciptakan Dewi Lestari. Malaikat tanpa sayap. Manusia dapat menjelma menjadi sosok malaikat dengan berbuat baik kepada orang lain. Tanpa pamrih. Melakukan hal-hal yang mungkin dalam mata manusia tidak mungkin, tetapi sanggup dilakukannya. (hlm. 49)

Lalu ternyata apakah  perbuatan Adelita yang membohongi perasaannya sendiri, tak jujur dan tak berani mengakui perasaannya itu bisa membuatnya bahagia? Benarkah melihat sahabatnya bahagia adalah kebahagiaan juga baginya? Hmmm… sepertinya siapapun yang kadang tak suka jujur dan menyembunyikan perasaannya rasanya  recommended untuk membaca novel ini. Di sini kita dikenalkan akan sebuah penyakit yang mungkin jarang di dengar. Psikomatis, penyakit yang berasal dari pikiran dan kemudian mempengaruhi tubuh. Dan lalu, untuk menyembuhkannya ternyata mudah saja.

“Lalu apa yang harus saya lakukan?” tanyaku terbata. Air mata kembali merembes dari sudut mata. “Hanya kamu yang tahu. Ikuti suara hatimu. Itulah nurani yang akan membimbingmu menemukan jawaban.” (hlm.139)

Memang mudah kedengarannya, tetapi ternyata sulit dilakukan. Sulit untuk memutuskan yang mana nurani. Sebagian besar atau sebagian kecil. Itu yang dialami Adelita. Konflik batin Adelita ini memang rumit namun menarik untuk kita ikuti. Kadang sebagian besarnya akan membuat pembaca gemas, namun mungkin pula akan membuat kita prihatin sekaligus pengen*puk-puk si Adelita.
Dari novel ini kita bisa belajar tentang persahabatan namun juga lebih kepada kejujuran hati. Itu yang bisa saya tangkap. 

Membohongi diri sendiri lebih sakit dari cinta tak berbalas.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar