Laman

Sabtu, 17 September 2016

Gelombang Kenangan





Judul : Sidney Sheldon’s The Tides of memory (Gelombang Kenangan)
Penulis : Tilly Bagshawe
Alih Bahasa : Harisa Permatasari
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Jakarta. 2016
592 hlm

Alexia De Vere dikenal di Inggris sebagai Wanita Bertangan Besi yang baru, politisi tidak popular yang kemudian menjadi Menteri Dalam Negeri dan salah satu politisi paling berpengaruh. Sebagai istri aristocrat kaya Teddy De Vere, Alexia menyembunyikan masa lalu dari diri sendiri dan suaminya, yang sangat ia cintai serta berjasa besar dalam karier politiknya yang cemerlang. Akan tetapi, tidak semua hal berjalan mulus dalam hidupnya. Putri Alexia, Roxie, wanita getir yang terkungkung kursi roda setelah gagal bunuh diri, menyalahkan Alexia karena menghancurkan hidupnya. Putra Alexia yang memesona, Michael, mempertaruhkan nama baik keluarga untuk mewujudkan mimpinya. Situasi mulai tak terkendali ketika masa lalu membayanginya untuk membalas dendam.
Seseorang di luar sana ingin menghancurkan hidupnya, kariernya, teman-temannya, dan keluarganya. Akankah Alexia selamat dari serangan gelombang kenangan?


Alexia mereguk puncak kehidupan politiknya dengan melenggang menjadi Menteri Dalam Negeri di Inggris tanpa perlu usaha yang berat. Jabatan yang paling bagus tentu saja, setingkat di bawah Perdana Menteri. Hanya karena dia mengetahui aib sang Perdana Menteri dan sang PM sendiri ketakutan Alexia akan membongkarnya, maka disogoklah Alexia dengan pemberian jabatan tersebut. Setiap orang memang memiliki aib pun masa lalu yang dibungkus rapat-rapat dan tak ingin dipertontonkan untuk menjadi konsumsi publik.

Demikian pula pada Alexia, di usianya yang menjelang 60 tahun, karier politik yang luar biasa, tampak dari luar kehidupan keluarganya kelihatan normal-normal saja. Tak ada yang tahu bahwa dalam keluarga mereka juga masing-masing memiliki rahasia sendiri-sendiri. Alexia meski sangat mencintai suami dan anak-anaknya, tapi dia juga mempunyai rahasia masa lalu yang kelam. Bahkan dia meninggalkan identitasnya yang lama dan menjadi pribadi yang baru selepas sebuah kejadian yang mengguncangnya di masa mudanya. Tentu saja dia mengira bahwa tak ada seorangpun yang akan mengetahui hal tersebut. Tapi ternyata di masa jayanya sebagai sang menteri, muncullah ancaman dari orang-orang yang tak menyukainya dan bahkan juga secara misterius ada ancaman masa lalu yang membayanginya. Alexia meski sebenarnya karakternya kuat dan penuh percaya diri, ternyata akhirnya tak mampu bertahan menghadapi rentetan kejadian buruk yang menghantamnya. Untunglah dia punya tempat curhat, sahabatnya Lucy Meyer. Dia adalah sahabat keluarga sekaligus teman terbaik Alexia, bahkan mereka berniat menjodohkan putra putri  mereka, Teddy dan Summer.

Menjadi seorang pejabat publik memang tak mudah. Ada banyak intrik yang mengintai. Bagi Alexia sendiri jika serangan hanya tertuju pada dirinya, dia masih punya kekuatan untuk menghadapinya, walaupun serangan itu dalam bentuk percobaan pembunuhan dirinya ataupun telepon misterius. Tapi lain halnya jika serangan  itu mulai tertuju pada ranah keluarganya. Orang-orang yang dicintainya meski dia tak memperlihatkannya dengan jelas, akan dilindunginya sekuat tenaga. Orang-orang yang ternyata pun juga memiliki rahasia besar yang disimpan masing-masing, dan tentunya dengan maksudnya sendiri-sendiri.
Membaca novel ini meski dengan jenis font yang agak kecil, tapi tetap membuat penasaran hingga akhir. Seperti novel suspense pada umumnya, ada twist di akhir cerita  yang kadang tak bisa diperkirakan. Dengan alur yang cepat membuat kita tetap menikmati kisah-kisah yang bergulir. Tak membutuhkan waktu lama bagi saya untuk menghabiskannya karena menarik untuk diikuti serta memang saya adalah penggemar berat novel suspense.

Novel ini lebih menekankan tentang hubungan keluarga. Pesan yang dapat saya tangkap adalah bagaimana semestinya kejujuran itu perlu dalam menjalani sebuah keluarga. Cinta saja tak cukup karena itu bahkan dapat menjadi boomerang jika tak didasari dengan kejujuran. Dan lagi, pertalian darah kerap akan lebih mengikat meski ada rasa saling membenci. Kebencian itu akan pupus sejalan dengan kasih sayang keluarga yang tak akan pernah sirna.
               

 Hiduplah untuk hari ini. Mencintai untuk hari ini. Memaafkan untuk hari ini. (hlm. 578)



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar