Laman

Kamis, 29 September 2016

Evergreen





Judul   : Evergreen

Penulis   : Prisca Primasari

Penerbit : PT Grasindo

Jakarta, 2013

203 hlm



Konichiwa! Selamat datang di Evergreen, kafe es krim penuh pelayan baik hati, lagu The Beatles akan melengkapi hari-harimu. Tempat yang menghangatkan, bahkan bagi seorang gadis pengeluh dan egois sepertimu Rachel

Di kafe itu, kau menemukan sebuah dunia baru juga pelarian setelah dipecat dari pekerjaanmu. Menurutku itu bagus! Apa enaknya sih kerja jadi editor?

Namun, sebenarnya butuh berapa banyak kenangandan sorbet stroberi untuk mengubahsifat egoismu? Atau yang kau butuhkan sebenarnya hanya kasih sayang? Mungkin dariku, si pemilik kafe? Hmmm?




Awal melihat buku ini, saya langsung terkesan dengan sampul dan bahkan judul bukunya. Dengan nuansa hijau yang menyejukkan, ditambah gambar es krim yang menggoda meski dalam bentuk clipart. Begitu membaca judulnya, malah saya langsung membayangkan klinik yang dekat tempat tinggal saya karena bernama sama. Tapi ternyata tentu saja sesuai dengan gambar di sampul depan maka evergreen di sini berhubungan dengan es krim pun kue-kue lezat. Ya, evergreen adalah nama sebuah kafe di sebuah sudut kota Tokyo. Memasuki kafe ini selalu menimbulkan efek yang menenangkan serta akan membawa pengunjung untuk kembali. Apalagi ada program gratis untuk pengunjung pertama bahkan mendapat bonus lagi. Belum lagi es krimnya yang memang lezat memanja lidah. Nyam..nyam… *jadi ngiler nih.

“Secara harfiah, evergreen berarti pohon yang selalu berwarna hijau sepanjang tahun. Bisa pula diartikan sebagai selamanya. Aku ingin kafe ini, juga orang-orang di dalamnya, bisa bersahabat selamanya, seperti cemara yang tak pernah berubah warna.” (hlm. 195)

Rachel, seorang editor di sebuah percetakan buku yang baru saja dipecat, merasa dirinyalah orang paling malang sedunia. Kehilangan pekerjaan dengan cara dipecat tentu akan menghilangkan kesempatannya untuk memperoleh pekerjaan lain.  Begitu kecewa dan terpuruk membuat dia seolah-olah seharusnya melakukan jisatsu alias bunuh diri saja.
Dan lalu dia menemukan kafe Evergreen. Di sana dia belajar banyak hal. Bagaimana rasa kekeluargaan, saling menghargai, persahabatan dan pelayanan yang ramah serta beberapa hal lainnya. Semua itu perlahan mengubah dirinya menjadi pribadi yang lebih baik. Dia akhirnya menyadari ternyata selama ini dia begitu egois dan hanya mementingkan diri sendiri. Untunglah dia menemukan Evergreen.

Meski novel ini bukan hanya tentang Rachel, namun semua kisah menunjukkan tentang bagaimana keluarga yang menyenangkan dan saling berbagi. Banyak masalah dan konflik yang ditawarkan, dan semuanya berakhir dengan memberi kita banyak pelajaran untuk lebih memaknai hidup.

Seperti Rachel yang belajar banyak di Evergreen, sayapun ikut terbuai dengan suasana Evergreen. Dengan latar belakang Jepang yang merupakan salah satu negara favorit saya, kita juga bisa belajar dan tahu beberapa istilah bahasa Jepang. Novel yang manis menurut saya dan layak jadi koleksi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar