Laman

Sabtu, 24 September 2016

Dengan Hati








Judul     : Dengan Hati
Penulis : Syafrina Siregar
Penerbit      : PT Gramedia Pustaka Utama
Jakarta, Mei 2008
280 hlm


Mengambil latar belakang isu HIV/AIDS, Dengan Hati bercerita tentang persahabatan Mila dan Santi melewati berbagai masalah seputar isu ini. Ada Dini, ODHA yang sedang hamil dan menerima perlakuan diskriminasi. Ada Ian, project manager yang mirip Dermott Mulroney. Dan ada Charlie, si rambut kecoklatan yang selalu menjaga Ian.
Ada cinta dalam persahabatn, cinta antara anak dan orangtua, juga cinta yang terlarang. Ada pertemuan, ada kehilangan. Ada tawa dan air mata.
Satu per satu konflik yang muncul selalu mebawa tokoh-tokohnya pada satu kesimpulan: Hanya dengan hati, semua bisa dijalani dengan lebih baik lagi.
Tapi masih bisakah kembali pada hati dan membiarkan ayah tercinta berisiko terpapar HIV karena mengoperasi seorang ODHA? MAsihkah bisa jujur pada hati dan membiarkan orang terkasih menikah dengan seorang ODHA? Masih sanggupkah berpijak pada hati saat diri sendiri pun berisiko terinfeksi virus HIV?
Saat teori bersinggungan dengan kenyataan, saat idealism mempertanyakan realita, masihkan Mila, Santi, Dini, juga Ian tetap berpijak dengan HATI?


Kamila Zakaria, putri tunggal dari seorang dokter kandungan yang cukup terkenal, merasa bahagia setelah berhasil mendapatkan pekerjaan baru sebagai seorang konsultan di Worldcare, organisasi nirlaba dari Amerika. Worldcare merupakan sebuah organisasi yang mendapat dana dari pemerintah Amerika untuk menangani program mengenai isu HIV?AIDS di beberapa Negara berkembang termasuk Indonesia. Menjangkau beberapa kota besar, termasuk pula kota Medan tempat Mila berada.
Di tempat kerja barunya ini, Mila menemukan sahabat-sahabat baru, seperti Santi dan Lina, bahkan bertemu dengan bos barunya, Ian. Sayangnya karena Mila baru mulai menggeluti bidang tersebut, dia belum mampu memahami sepenuhnya tentang HIV/AIDS. Pikirannya, ini adalah jenis penyakit yang dapat dibasmi hanya dengan mengarantina penderitanya di suatu pulau.

Itulah pendapat Mila. Hampir sama seperti pendapat orang-orang pada umumnya. ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) adalah seperti kuman yang harus dijauhi. Mila yang merasa jijik dengan para ODHA. Mila yang begitu takut tertular HIV ketika berkunjung ke sebuah Yayasan yang khusus mendampingi ODHA. Mila yang bahkan tak tahu kalau sahabat bahkan pria yang disukainya adalah juga salah satu dari orang-orang yang begitu ditakutinya itu. Lalu akhirnya ketika dia tahu, perasaan shock dan jijik menguasainya. Teman berbagi makan, minum bahkan tempat tidur ternyata adalah ODHA. Sungguhkan Mila akan tetap bertahan dengan pendapatnya? 

Isu masalah sosial HIV/AIDS memang hingga sekarang ini tetap jadi momok mengerikan bagi masyarakat kita. Meski telah banyak LSM baik dari dalam ataupun luar negeri dan bahkan juga  dari pihak pemerintah yang sering mengampanyekan tentang ODHA yang tak perlu dijauhi, namun tak ayal tanpa pengertian dan pemahaman yang baik, masyarakat masih sering mempertahankan stigma buruk terhadap para penderitanya. Biasanya, cara penularan HIV/AIDS inilah yang terkadang membuat masyarakat memandang buruk terhadap penderitanya.

“Secara gak langsung, modul ini juga membuat orang percaya bahwa mereka yang terkena virus HIV adalah orang yang gak bermoral.”
Mila menatap Santi.”lho, bukannya memang seperti itu?”
Santi terhenyak kaget.”Astaga, jadi seperti itu pikiranmu terhadap ODHA?”  (hlm. 46-47)

Untunglah penulis mampu mengolah masalah ini menjadi sebuah novel yang cukup menarik. Salut buat sang penulis. Konflik yang dihadirkan berlatar seorang yang awalnya memandang buruk ODHA hingga akhirnya berbalik mampu memahami masalah tersebut dengan baik. Semua itu karena dipahami secara terbuka dan diterima dengan hati. Tanpa hati yang rela membuka pikiran dan pemahaman tentang ODHA, tentu tak akan mampu menerima dengan tulus penyakit tersebut bahkan terutama para penderitanya. Seperti yang diceritakan lewat tokoh Kamila. Lewat berbagai masalah dan kejadian yang muncul dalam kehidupannya, akhirnya dia mampu menerima semua itu dengan hati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar