Laman

Kamis, 15 Oktober 2015

Celebrating : 125 Years of Agatha Christie



Sebagai penggemar si Ratu Cerita Kriminal garis keras, tentu saja saya sangat malu mengakui kalau ternyata saya tidak tahu tanggal kelahiran sang Ratu. Dan ternyata tahun ini tepatnya 15 September 2015 tepat 125 tahun sang Ratu berkarya. Untunglah saya sempat melihat timeline Gramedia di facebook kemarin dan menemukan postingan tentang 125 Years of Agatha Christie.
Dari hal tersebut saya beralih ke blog Sel Sel Kelabu, membuat saya dengan senang hati menceritakan kisah saya dengan Sang Ratu ini.
Novel-novel Agatha Christie telah saya nikmati sejak jaman SMP SMA dulu.. Saya ingat beberapa judul yang sempat saya baca : And then they were none, Satu dua pasang gesper sepatunya, Mayat dalam perpustakaan, dan beberapa lainnya.
Kebetulan kakak saya juga punya hobi baca yang sama dengan saya. Jadilah kadang kami berebut setiap ada bacaan baru, dan jika tak ada yang mau mengalah, maka kami berusaha berkompromi dengan membaca bersama-sama. Untungnya kecepatan membaca saya ternyata lebih melesat dibandingkan si kakak, maka jelas saja saya akan membaca di lembar berikut sementara kakak saya memiringkan kepala membaca halaman sebelumnya. Setelah selesai kami akan segera membahas mengenai isi buku yang kami baca. Jika buku tersebut adalah buku novel, maka kadang kami akan mencocokkan tokoh tokoh dalam novel tersebut dengan orang orang yang kami kenal.
Hingga kemudian di suatu saat, kami membaca salah satu novel Agatha Christie yang berjudul Perjanjian dengan maut.


Saya tak akan pernah lupa dengan nama tokohnya yakni Nyonya Boynton. Sang Nyonya adalah seorang ibu yang sangat keras kepada anak-anaknya. Meski dari luar terlihat kehidupan mereka yang baik baik saja, namun jauh dalam lubuk hati anak anaknya mereka sangat tertekan dengan sifat otoriter sang ibu. Setiap pengambilan keputusan dilakukan oleh sang ibu, dan anak anaknya tak dapat menolak. Tapi yang aneh adalah, Nyonya Boynton sendiri bukanlah orang yang sehat wal afiat akan tetapi lewat karakter kerasnya di mampu menundukkan orang yang diinginkannya.
Kebiasaannya adalah duduk seperti patung, dengan badan yang besar, dia memang tampak seperti patung batu.
Saya sempat merasa senang begitu sang Nyonya dikisahkan meninggal (maaf spoiler hehehe... )
Nah, apa yang lucu dari hal ini?
Lucunya adalah ketika saya dan kakak selesai membaca novel ini. Tiba saatnya kami menokohkan sang Nyonya kepada orang yang pas. Sementara mencari-cari, pandangan kami terarah ke depan rumah dan melihat tetangga yang sedang duduk menikmati udara sore. Posisinya yang duduk diam tiba-tiba saja membuat kami berpandangan dan menyebut "Nyonya Boyton..."

Sejak saat itu panggilan Nyonya Boynton lekat pada sang tetangga, tentunya hanya saya berdua sang kakak yang tahu maksudnya.
Hingga kemudian suatu hari  kami sedang asyik dalam rumah, tiba tiba terdengar ketukan pintu. Saya membuka pintu, dan tebak siapa yang di depan pintu... Aah.. si Nyonya Boynton. Tebak pula apa maksud kedatangannya? Dengan senyum lebar dia membagi makanan untuk kami. Sejenis oleh-oleh dari kampungnya.
Aaah.. tak dinyana Nyonya Boynton yang ini begitu baik.. Jauh benar dari gambaran Nyonya Boynton yang asli. Sejak saat itu saya dan kakak kapok membanding-bandingkan tokoh dalam buku ke dalam kehidupan nyata. Fiksi tak sama dengan kenyataan. :-)


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar